“Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu”
(Gal 4:31b-5:6; Luk 11:37-41)
“
Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk
makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.
Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak
mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu
orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan
pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai
orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga
yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai
sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu” (Luk 11:37-41), demikian kutipan Warta Gembira hari
ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Cukup
banyak orang dalam cara hidup dan cara bertindaknya lebih menekankan
apa yang kelihatan di luar atau bagian luarnya dan kurang menunjukkan
bagian dalamnya, atau bahkan apa yang di dalam hati, pikiran dan
perasaannya disimpan rapat-rapat. Berpakaian rapi serta tampil cantik
atau tampan ternyata yang bersangkutan adalah orang jahat atau tak
bermoral. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk
bersih luar-dalam, dan kiranya lebih-lebih dan terutama adalah yang
bagian dalam yaitu bersih hati, jiwa dan akal budinya. Kami percaya
jika bagian dalam ini sungguh bersih, maka orang yang bersangkutan
pasti akan memikat, mempesona dan menarik semua orang dalam keadaan atau
kondisi apapun. Maka kami berharap kita semua tidak munafik dan hidup
bersandiwara, melainkan hendaknya jujur terhadap diri sendiri, tidak
menipu atau mengelabui diri sendiri. Hendaknya kita juga terbuka, tiada
sesuatu pun yang tertutupi dalam diri kita, tentu saja tidak secara
fisik, melainkan secara spiritual dimana kita dengan rendah hati berani
membuka dan membagikan isi hati, jiwa dan akal budi maupun perasaan
kepada orang lain. Tentu saja pertama-tama dant terutama kami
mengingatkan kita semua yang setiap hari hidup bersama, entah di dalam
keluarga maupun komunitas, untuk senantiasa saling terbuka satu sama
lain, misalnya antar suami dan isteri, antar orangtua dan anak-anak,
antar anggota komunitas dst… Semoga kita semua senantiasa menjauhkan
diri dari sikap Farisi, yang menekankan apa yang kelihatan,
sementara apa yang ada di dalam hati, pikiran dan jiwa, yang tidak
kelihatan kurang memperoleh perhatian. Marilah kita perhatikan
pendidikan moral atau budi pekerti bagi anak-anak atau peserta didik
kita dengans secara inklusif melalui aneka kegiatan dan derap langkah
kita.
· “Kamu
lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum
Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.Sebab oleh Roh, dan karena
iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. Sebab bagi
orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak
bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh
kasih” (Gal 5:4-6). Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua
untuk senanitiasa hidup dan bertindak dijiwai oleh iman. Maka baiklah
di Tahun Iman ini kita
berusaha terus menerus agar cara hidup dan cara bertindak kita dijiwai
oleh iman kita, dan untuk itu sebagaimana dianjurkan kepada kita semua,
marilah kita baca, renungkan dan cecap dalam-dalam apa yang tertulis di
dalam Kitab Suci. “Hanya iman yang bekerja oleh kasih”, demikian
peringatan Paulus. Kita semua mengaku diri sebagai umat beriman, maka
baiklah hal itu tidak hanya manis di mulut dalam kata-kata saja,
melainkan menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak, dalam
perilaku kita sehari-hari. Salah satu wujud penghayatan iman adalah
hidup saling mengasihi dengan siapapun tanpa pandang bulu, SARA, karena
kasih sejati tak dapat dibatasi atau tak terbatas. Kita juga diingatkan
untuk mensikapi dan menghayati aneka aturan atau tata tertib dalam dan
oleh kasih, karena aneka aturan dan tata tertib dibuat dan diundangkan
dalam kasih dengan tujuan membantu kita semua untuk saling mengasihi
secara konkret.
Maka jika ada aturan atau tata tertib yang mendorong atau menuntun
orang untuk hidup saling mengasihi, hendaknya dengan tegas diluruskan
atau dibetulkan. Saya percaya bahwa semua agama mengajarkan hidup saling
mengasihi, maka ketika ada orang beragama cara hidup dan
cara bertindaknya merusak dan mencelakakan orang lain, hemat saya yang
bersangkutan sungguh munafik: mengaku beragama tetapi tidak menghayati
ajaran utama atau pokok agamanya.
“Kiranya
kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu
sesuai dengan janji-Mu, supaya aku dapat memberi jawab kepada orang yang
mencela aku, sebab aku percaya kepada firman-Mu. Janganlah sekali-kali
mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada
hukum-hukum-Mu. Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk
seterusnya dan selamanya.Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku
mencari titah-titah-Mu”
(Mzm 119:41-45)
Ign 16 Oktober 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar