Sabtu, 22 September 2012

Minggu Biasa XXV

Mg Biasa XXV: Keb 2:12.17-20; Yak 3:16-4:3; Mrk 9:30-37
"Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."
Dalam rangka mempersiapkan kunjungan pastoral Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia, antara lain di Yogyakarta, tepat di lapangan Angkatan Udara, Maguwo-Yogyakarta, kami, panitia, harus mempersiapkan 20 (duapuluh) tamu VVIP. Mendengar hal itu, kami, panitia, bertanya-tanya: siapa yang selayaknya diundang sebagai tamu VVIP? Dalam kebingungan dan pertanyaan tersebut, tiba-tiba kami menerima info bahwa yang dimaksudkan dengan tamu VVIP adalah bayi/anak balita, lansia, pasien yang sakit berat/keras, anak-anak cacat, dan hendaknya juga diusahakan agar mereka itu terdiri dari aneka cara hidup atau panggilan. Mendengar hal itu, memang kami merasa ada kejelasan, tetapi juga harus menghadapi banyak tantangan, masalah dan hambatan, karena yang mencari tamu dimaksudkan memang harus dipersiapkan sedini mungkin (ditanyakan kesanggupannya) dan pada hari H yang bersangkutan, khusus pasien berpenyakit keras, masih hidup. Para tamu VVIP ini ditempatkan berjajar di pinggir ‘jalan’ di mana Paus akan mengawali Perayaan Ekaristis bersama: Paus memberkati dan menciumi mereka satu per satu. Apa yang dilakukan oleh Paus, Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, ini kiranya meneladan Yesus yang memeluk anak-anak kecil seraya bersabda : "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku." (Mrk 9:37). Maka marilah kita renungkan sabda Yesus ini, lebih-lebih bagi kita yang beriman kepada Yesus Kristus, entah secara formal maupun informal.
"Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."(Mrk 9:37)
Menyambut serta memperlakukan anak kecil tanpa kasih pasti anak yang  bersangkutan akan menolak dan menangis, demikian juga dalam menyambut dan memperlakukan mereka yang sudah lanjut usia, menderita sakit keras dst.. Anak-anak pada umumnya juga lebih suci daripada orangtua atau orang dewasa, karena semakin tambah umur atau pengalaman pada umumnya juga semakin bertambah dosa-dosanya. Dengan kata lain Tuhan lebih hadir dan hidup serta menjiwai anak-anak daripada orang dewasa atau orangtua. Maka benarlah apa yang disabdakan oleh Yesus bahwa cara menyambut anak-anak kurang lebih sama atau bahkan identik dengan cara menyambut Tuhan.
Secara khusus kami mengharapkan para orangtua yang memiliki anak-anak balita untuk sungguh membaktikan diri pada anak-anak, dengan jiwa besar dan hati rela berkorban memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya selama masa balita. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masa balita anak-anak sungguh rawan dan rentan, dimana anak-anak lebih receptif terhadap aneka informasi yang mendatangi, apa yang dilihat dan didengarkan. Hendaknya orangtua menghadirkan diri di hadapan anak-anak dalam dan oleh kasih sejati, sehingga anak-anak sungguh merasa lebih dikasihi oleh orangtuanya daripada pembantu/baby-sitter atau neneknya. Maklum karena demi karir, maka sering terjadi anak-anak balita lebih diasuh dan dididik oleh pembantu atau neneknya, tiada waktu dan tenaga lagi bagi anak-anak balitanya.
Yesus mengangkat dan memeluk anak kecil sebagai tanggapan atau reaksi atas pertanyaan di antara murid-muridNya atau para rasul perihal siapa yang terbesar di antara mereka jika Yesus meninggalkan mereka. Yesus mengingatkan dan mengajar mereka bahwa ‘yang terbesar’ hendaknya rendah hati dan bersikap hidup melayani. Ajaran ini kiranya sampai kini terus diusahakan oleh para pembesar atau petinggi Umat Katolik. Ada pepatah yang berbunyi “batang pada semakin bulir-bulirnya berisi akan semakin menunduk, sedangkan yang tak berisi akan menengadah”. Maksud pepatah ini kiranya sama dengan yang dikehendaki oleh Yesus, yaitu: semakin tua, tambah usia dan pengalaman, semakin kaya akan harta benda dan ilmu, semakin tinggi kedudukan dan jabatan, dst.. hendaknya semakin rendah hati, tidak sombong. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai sampai kini adalah anugerah Tuhan, bukan semata-mata hasil usaha atau keringat kita, orang yang lemah dan rapuh ini. Kami berharap anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibina perihal hal di atas ini dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua.
“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai” (Yak 3:16-18)
Dengan jelas sekali kita diingatkan oleh Yakobus agar tidak iri hati dan tidak mementingkan diri sendiri dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun. Sebagai orang beriman kita diingatkan dan diajak untuk menghayati ‘hikmat yang dari atas’, yaitu “pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, tidak memihak dan tidak munafik”. Hidup dan bertindak demikian itu hemat saya perlu dijiwai oleh kerendahan hati.
Dalam hal panggilan menjadi pendamai, baiklah saya angkat kembali apa yang dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam memasuki Millenium Ketiga pada hari Perdamaian Sedunia, yaitu “There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (=Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan). Orang yang menghayati kasih pengampunan hemat saya juga akan menjadi peramah dan penuh belas kasihan. Maka pertama-tama dan terutama marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita telah menerima kasih pengampunan secara melimpah ruah dari Tuhan melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan dan mengasihi kita, tentu saja terutama orangtua kita masing-masing. Jika kita menyadari dan menghayati kasih pengampunan ini, maka panggilan untuk mengasihi dan mengampuni orang lain dengan mudah dapat kita lakukan.
Kita juga diingatkan untuk ‘tidak memihak dan tidak munafik’. Peringatan atau ajakan ini kiranya pertama-tama dan terutama harus dilakukan oleh mereka yang memiliki kuasa untuk membagi atau memberi imbal jasa: hendaknya dilakukan secara obyektif, sehingga jauh dari pemihakan dan kemunafikan. Para pengusaha dan pemberi kerja kami harapkan dengan adil dan obyektif dalam memberi imbal jasa kepada para pegawai atau buruhnya, paling tidak sesuai dengan peraturan umum yang berlaku, dan syukur lebih. Ingatlah dan sadari bahwa usaha anda sangat tergantung dari para pegawai atau buruh; jika para pegawai atau buruh menerima imbal jasa yang memadai maka mereka akan tergerak untuk memajukan dan mengembangkan usaha anda, sebaliknya jika imbal saja tidak memadai, maka pegawai dan buruh akan bekerja seenaknya dan tidak lama lagi usaha anda akan gulung tikar.
Kami berharap ajakan untuk ‘tidak memihak dan tidak munafik’ juga ditanggapi oleh para guru atau pendidik di sekolah-sekolah dalam memperlakukan para murid atau peserta didik, entah itu dalam memberi nilai ulangan maupu peringatan  atau tegoran harian. Pemihakan dan kemunafikan yang ada, baik dalam diri orangtua maupun guru/pendidik akan menular pada anak-anak atau peserta didik. “Kacang mongso tinggalo lanjaran”, yang berarti anak-anak pasti akan mengikuti apa yang dilakukan orangtua, para peserta didik akan mengikuti apa yang dilakukan pendidik/guru.
“Ya Allah, selamatkanlah aku karena nama-Mu, berilah keadilan kepadaku karena keperkasaan-Mu! Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku!Sebab orang-orang yang angkuh bangkit menyerang aku, orang-orang yang sombong ingin mencabut nyawaku; mereka tidak mempedulikan Allah.” (Mzm 54:3-5)
Ign 23 September 2012

Jumat, 21 September 2012

Renungan 22 September 2012

"Siapa mempunyai telinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!”
(1Kor 15:35-37.42-49; Luk 8:4-15)
“Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" (Luk 8:4-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kiranya hanya segelintir orang yang berpenyakit tuli alias tidak dapat mendengar, apalagi mendengarkan, dan kebanyakan dari kita memiliki telinga atau indera pendengar yang baik dan sehat. Namun apakah kita sungguh dapat dan mau mendengarkan sungguh-sungguh aneka macam suara, informasi atau ajaran dst.. kiranya boleh  dipertanyakan. Jika kita semua sungguh dapat menjadi pendengar yang baik kiranya hidup bersama akan sungguh nikmat, nyaman dan mempesona serta menarik, karena kebanyakan yang diberitakan, diajarkan dan diperdengarkan adalah apa-apa yang baik. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua, umat beriman, untuk memperdalam kepekaan mendengarkan, dan tentu saja tidak hanya dengan telinga fisik, melainkan juga dengan telinga spiritual atau rohani. Jika kita mendambakan diri tumbuh berkembang dengan baik sebagai umat beriman yang bermoral dan berbudi pekerti luhur, hendaknya kita dengarkan dan cccap dalam-dalam sabda Tuhan, sebagaimana tertulis didalam kitab suci, yang senantiasa oleh saudara-saudari kita dicoba untuk menguraikan dan merefleksikan serta kemudian disampaikan kepada kita, entah berupa sharing atau pemberitahuan perihal nilai-nilai atau keutamaan-keutaman yang bersumber dari sabda Tuhan. Mereka yang sungguh tekun dan rendah hati mendengarkan telah menghasilkan buah melimpah, entah berupa karangan/tulisan atau buku, yang kemudian sangat berguna bagi banyak orang. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dididik dan dibiasakan dalam hal mendengarkan, dan tentu saja orangtua dapat menjadi teladan dalam hal mendengarkan dengan baik dan benar.
·   “Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi” (1Kor 15:47-49), demikian sharing iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman. Sharing Paulus ini kiranya diwarnai oleh ajaran perihal duniawi dan sorgawi, fisik dan spiritual, tubuh dan roh/jiwa. Kita diingatakan bahwa tubuh kita yang fisik dan duniawi ini berasal dari debu tanah dan dalam waktu singkat akan kembali menjadi debu tanah kembali, setelah meninggal dunia dan dimakamkan nanti. Roh atau jiwa yang bersifat spiritual berasal dari sorga, dari Allah, dengan kata lain hidup kita berasal dari Allah, maka jika kita mendambakan hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, hendaknya senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan perintah atau kehendak Allah. Kehendak atau perintah Allah antara lain tertulis di dalam Kitab Suci, dan oleh para pemimpin agama atau pengkotbah apa yang tertulis dalam Kitab Suci tersebut diusahakan untuk diteruskan kepada kita semua melalui aneka cara dan bentuk. Maka baiklah dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua: ketika sedang dalam ibadat pengotbah menyampaikan kotbahnya, hendaknya sungguh didengarkan, direnungkan dalam hati dan dicecap dalam-dalam. Bukalah telinga fisik dan hati anda ketika pengkotbah sedang menyampaikan kotbah-kotbahnya. Sebagai umat Allah marilah kita bekerjasama dalam menghayati aneka ajaran yang disampaikan melalui pengkotbah. Ada kemungkinan bagi kita semua untuk setiap hari membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, entah secara pribadi atau bersama-sama dalam komunitas atau keluarga. Maka usahakan, sediakan waktu dan tenaga setiap hari untuk membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Marilah kita hayati dengan sungguh-sungguh bahwa kita adalah umat Allah, yang berarti umat yang senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah.
“Maka musuhku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin, bahwa Allah memihak kepadaku. Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku” (Mzm 56:10-12)
Ign 22 September 2012